Valentine = Love ?

10 Feb

Bulan Februari udah dateng aja…

Beda sama bulan-bulan lain. Untuk kaum remaja (dan sebagian orang dewasa), bulan Februari adalah bulan yang ditunggu-tunggu atau minimal disambut dengan perasaan yang beda. Buat yang punya pacar, seneng banget karena ada kemungkinan akan ketemu sama malam romantis (*Cling!! Candle light dinner is comiiiing….). Buat yang nggak punya pacar, “Emangnya cinta itu harus bareng pacar? ‘Kan ada temen-temen…”

Well, di luar pembahasan seperti apa cinta dimaknai, udah seperti kesepakatan umum kalo Februari itu bulannya cinta. Emangnya iya?

Ayo balik dulu… Valentine itu sejarahnya seperti apa, sih? Aduuuh… ternyata nggak terlalu jelas… (ijin bikin link, ya…) Ada banyak versi dari banyak kepala yang mengklaim tentang sejarah apa yang ada di balik perayaan valentine. Jadi, kayaknya kita nggak perlu ikut-ikutan ribut tentang sejarah valentine. Soalnya, entah apapun yang diperdebatkan itu, nggak bisa dipungkiri bahwa paling tidak saat ini ada sebagian orang yang menganggap valentine sebagai hari yang istimewa. Salah nggak, sih?

Kalo kami, sih, netral-netral aja. Yang mau merayakan, boleh… Nggak mau ikutan pun juga nggak masalah. Cuma ada hal yang mungkin bisa jadi pengingat buat kita. Bahwa, cinta pada dasarnya adalah hal yang penting. Dan itu bukan cuma setiap tanggal 14 Februari aja… Tapi, SETIAP HARI! (tuh udah digede-gedein hurufnya)…

Kalo, kamu ikut ngerayain, nggak masalah… (soalnya kami juga… hehehehehe). Cuma, jangan jadiin valentine kayak perayaan cinta sesaat aja. Jangan sampai, cinta disempitkan maknanya sebagai valentine. Valentine itu bukan cinta, meskipun ada orang yang merayakan cintanya pada saat valentine. Cinta itu tidak tergantung pada tempat atau waktu. Jadi, perayaan cinta yang sebenernya nggak terjadi dalam bingkai tempat dan waktu. Apa bingkai yang paling tepat untuk merayakan valentine? Tebakan kamu bener banget! (Horeeee!!!). Bingkai yang paling tepat adalah HATI. Kalau kamu mau merayakan cinta, yang paling tepat itu di HATI… Hati siapa? Ya, hati kamu sendiri. Soalnya, gimana kita bisa tau apa isi hati orang lain? Meskipun kamu ngerasa jadi orang yang paling paham tentang seseorang (pacar kamu, misalnya).

Dimana sih esensinya cinta? Meski agak berat (uuugh!), esensinya cinta ada di “Tulus Berbagi dan Memberi”. Memberi apa, lha wong, uang jajan aja masih pas-pasan? Hahahahaha….😀 Memberi dan Berbagi itu kan nggak mesti pake duit. Bisa jadi: memberi semangat, memberi motivasi, memberi dukungan, memberi… memberi… memberi…

Dan bukan cuma memberi dan berbagi aja lho… Memberi dan berbagi yang bisa disebut cinta itu tergantung motivasi yang ada di belakangnya. Kalo kita memberi bantuan sama temen supaya boleh dipinjemin mobilnya (apalagi kalo ternyata setelah mobilnya nggak ada, kita nggak pernah lagi membantu!), ini bukan cinta namanya. Ini namanya “baik kalo ada maunya.”

Jadi, jangan pernah berharap kamu bisa mencintai atau dicintai, kalo pada kenyataannya kamu nggak pernah mencoba untuk “Memberi dan Berbagi dengan TULUS”. Apa itu tulus? Ini juga susah untuk dijelasin. Tapi, intinya, adalah memberi karena ingin memberi dan berbagi karena ingin berbagi. Pusing, kan? Jangan pusing… “mencintai dengan tulus” itu bukan suatu kondisi, mencintai dengan tulus itu adalah “jalan”. Artinya, jalanin aja…Terus aja memberi dan berbagi…

Let’s Celebrate The Month Of Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: