Gara-Gara Rumah Sushi!

26 Dec
Tomodachi Roll

Tomodachi Roll

Guys, tau nggak? Gara-gara Rumah Sushi banyak hal yang berubah dari hidup kami berempat (pendiri Rumah Sushi ada 4 orang). Kami tidak lagi menjalani hidup yang seperti biasa kami lakukan. Ada 3 hal (dari banyaaak hal) yang akan kami sebut.

Pertama, banyak baju yang terpaksa menganggur dan hampir-hampir tidak pernah terpakai. Karena kami sepakat untuk memakai daleman hitam, pilihan kami terbatas hanya pada warna itu. Nyaris kami pakai celana dalam hitam. Untunglah, Tuhan menyadarkan bahwa yang kami butuhkan adalah t-shirt, polo shirt atau kemeja hitam (bukan berarti kami tidak butuh celana dalam, tapi tidak ada keharusan utk memakai celana dalam hitam!).  Terpaksalah pakaian warna lain harus minggir dan menunggu giliran untuk dipake seminggu sekali. Itu pun kalo kami masih sempat jalan2 waktu libur. Soalnya, biasanya kegiatan kami selain bekerja di Rumah Sushi adalah tidur!

Berikut adalah reka adegan di kamar salah satu pendiri Rumah Sushi. Sebut saja Bunga, bunga bank!

Cowok:  (dalam hati) Hmmm… Pake baju yang mana, ya, biar keren?

(sfx: bongkar-bongkar lemari)

Cowok: (masih dalam hati karena kalau dalam air jadinya blebeb-blebeb, dong…) Ini aja, deh. (mematut diri di depan cermin dengan gaya yang paling asoy). Hmmm… Kok, kurang cihuy, ya?

(sfx: bongkar-bongkar lemari lagi karena mencari pilihan lain)

Cowok: Atau yang ini aja, ya?

(sfx: bongkar-bongkar kapal karena setelah 1/2 jam kamar sudah berubah jadi kapal pecah)

Akhirnya,

Cowok: (dengan penuh keyakinan) Udah, deh. Yang ini aja…

(Berjalan keluar dengan full PD. Bertemu Mama yang baik dan lucu sedang membaca koran.)

Cowok: (dengan senyum bangga) Gimana, Ma? Keren, kan?

Mama: (mengangguk-angguk) Hmmm… Keren…

Cowok: (Masih dengan senyum bangga yang mulai cenderung seperti nyengir) Okay! Cabut ke Rumah Sushi dulu, ya…

Mama: (mengangguk lalu kembali membaca koran sambil berpikir) Apa bedanya sama kemarin, ya…?

Begitulah. Prinsip kami sekarang adalah: Pake hitam? Hmmm… Siapa sih yang bikin aturan harus pake baju hitam? Oiya… Kami sendiri! Jadi, suka tidak suka, ya, harus dipakai. Sekalipun ini cuma pakaian, tapi inilah yang namanya konsekuen.

Perubahan yang kedua adalah cara kami menghabiskan waktu. Tidak lagi dengan nongkrong-nongkrong di kampus. 3 dari 4 pendiri Rumah Sushi memutuskan untuk cuti kuliah! (Ini adalah contoh buruk yang layak ditiru. Tapi, resikonya tanggung sendiri). Satu lainnya juga nyaris cuti kalau saja yang lain tidak mengingatkan bahwa kalau dia cuti bisa-bisa lulus waktu Indonesia sudah jadi pemenang Piala Dunia! (Yang entah kapan… Jadi, kami berdoa semoga timnas Indonesia bisa cepat jadi Juara Dunia sepak bola supaya teman kami itu bisa lulus secepatnya juga!). Kegiatan kami sekarang adalah belanja, menyusun meja, memasak, mencuci dan segala kegiatan Rumah Sushi. Selain itu? Tidur! (Bukan karena kami kurang tidur, tapi karena ritual sebelum tidur sangat enak dilakukan. Berkhayal! Kapan ya Rumah Sushi buka di mall? Hehehe…)

Perubahan ketiga adalah tidak ada lagi malam mingguan dengan kongkow-kongkow! Malam minggu artinya bekerja lebih keras dan pulang lebih pagi plus badan terasa patah-patah karena malam minggu pelanggan biasanya datang lebih ramai. Jadi, malam minggu tidak berarti santai. Kami justru kebalikannya. Malam minggu jadi malam tidak duduk semalaman karena non-stop masak dan melayani pelanggan sejak sore hari.

Bayangkan! Apa rasanya tidak duduk plus mondar-mandir di depan kompor selama hampir 8 jam non stop! Kalau saja urat betis bisa direbonding supaya lurus, pasti sudah kami lakukan! Kalau ada pepatah yang bilang ‘tiada gading yang tak retak’, buat kami ‘tiada betis yang tak keriting’ di malam minggu.

Gara-gara Rumah Sushi-lah hidup kami berubah drastis. Hidup kami jadi tidak seperti dulu lagi. Tapi, gara-gara Rumah Sushi juga kami merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Yaitu, saat kami melihat wajah kamu yang senang saat gigitan pertama di sushi buatan kami. Jujur, kadang-kadang kami suka mengintip diam-diam waktu kamu sedang makan (hmm… memangnya ada, ya, mengintip bilang-bilang?). Untuk apa? Untuk ikut merasakan apa yang kamu rasakan waktu menikmati Tomodachi Roll, Bull’s Eye, atau menu lainnya. Dan saat kamu tersenyum (yang biasanya sambil mengangguk-angguk), saat itulah kami merasakan hasil tertinggi dari kerja keras yang kami lakukan.

Itulah… Senyum puas kamu adalah salon rebonding buat betis kami yang keriting.

Kami jadi benar-benar menyadari apa itu perubahan melebihi quote-quote indah di buku atau wall facebook (merasakan keindahan suatu quote dengan membacanya ternyata sangat berbeda dengan benar-benar menjalaninya). Hidup memang selalu berubah. Tidak akan ada yang selalu sama selamanya selain perubahan itu sendiri. Hanya perubahan yang tetap. Tapi, perubahan bukanlah hal yang perlu ditakuti. Karena seiring dengan itu, bentuk kebahagiaan pun berubah mengikuti dedikasi dan integritas kita pada perubahan itu.

Gara-gara Rumah Sushi hidup kami berubah. Tapi, gara-gara Rumah Sushi juga kami bahagia. Dan kami bersyukur untuk itu…

Bull’s Eye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: